Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah memberikan nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul pada kesempatan ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya.
Hadirin yang saya hormati,
Pernahkah kita melihat seseorang berpakaian sederhana, kemudian kita menganggapnya kurang mampu?
Pernahkah kita melihat seorang siswa mendapatkan nilai rendah, kemudian kita menyebutnya bodoh?
Atau pernahkah kita melihat seseorang melakukan kesalahan, lalu kita terus mengingat kesalahannya meskipun ia sudah berusaha memperbaiki diri?
Jika pernah, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah penilaian kita benar-benar berdasarkan fakta, atau hanya berdasarkan prasangka?
Hadirin yang berbahagia,
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
“Yā ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram minaẓ-ẓann, inna ba‘ḍaẓ-ẓanni iṡm...”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak mudah berprasangka buruk terhadap orang lain.
Mengapa demikian?
Karena apa yang kita lihat belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang. Kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya, sedangkan kita tidak mengetahui seluruh perjuangan, kesulitan, dan niat yang ada dalam dirinya.
Hadirin yang saya hormati,
Dalam sosiologi, terdapat sebuah teori yang disebut Teori Labeling atau teori pelabelan, yang salah satunya dikembangkan oleh sosiolog Howard S. Becker.
Teori ini menjelaskan bagaimana cap yang diberikan masyarakat kepada seseorang dapat memengaruhi cara orang lain memperlakukannya dan, dalam keadaan tertentu, memengaruhi cara orang tersebut memandang dirinya sendiri.
Mari kita lihat contohnya.
Pertama, jangan memberi label bodoh kepada siswa yang mendapatkan nilai rendah.
Bayangkan ada seorang siswa yang mendapatkan nilai buruk dalam ujian.
Teman-temannya kemudian mengejeknya dan menyebutnya bodoh. Setiap kali guru memberikan pertanyaan, teman-temannya menertawakan ketika ia hendak menjawab.
Lama-kelamaan, siswa tersebut merasa minder. Ia takut menjawab pertanyaan, enggan mencoba, bahkan merasa dirinya memang tidak mampu.
Padahal, bisa jadi ia hanya membutuhkan cara belajar yang berbeda, bantuan tambahan, atau kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.
Nilai rendah dalam satu ujian tidak berarti seseorang tidak memiliki masa depan.
Jika kita terus memberikan label negatif, kita mungkin justru menghalangi seseorang untuk berkembang.
Oleh karena itu, daripada mengatakan, "Kamu memang bodoh," lebih baik kita mengatakan, "Kamu belum berhasil kali ini. Ayo, kita belajar bersama."
Perbedaannya sederhana, tetapi dampaknya bisa besar.
Kalimat pertama menjatuhkan seseorang, sedangkan kalimat kedua membuka kesempatan untuk berubah.
Kedua, jangan merendahkan seseorang karena keadaan ekonominya.
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada seorang siswa yang tidak mampu membeli sepatu baru atau membawa bekal sederhana ke sekolah.
Sayangnya, ada orang yang menjadikannya bahan ejekan.
Ia dianggap miskin, tidak pantas berteman, atau tidak layak berada dalam kelompok tertentu.
Padahal, keadaan ekonomi bukan ukuran harga diri seseorang. Kita tidak pernah tahu bagaimana perjuangan orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bisa jadi, siswa yang pakaiannya sederhana itu kelak menjadi seorang guru, dokter, pengusaha, atau pemimpin yang memberikan manfaat bagi banyak orang.
Sejarah bangsa Indonesia pun mengajarkan bahwa seseorang tidak harus berasal dari keluarga kaya untuk memberikan sumbangan besar bagi masyarakat.
Karena itu, jangan mengukur kehormatan seseorang berdasarkan kekayaannya.
Bukankah lebih baik kita dikenal sebagai orang yang suka menolong daripada orang yang gemar merendahkan?
Ketiga, jangan menganggap orang yang berbeda pendapat sebagai musuh.
Hadirin yang berbahagia,
Sekarang mari kita melihat kehidupan berbangsa dan bernegara.
Indonesia memiliki masyarakat yang beragam. Kita berbeda suku, agama, bahasa, budaya, dan pilihan politik.
Dalam sebuah diskusi, misalnya, seseorang menyampaikan pendapat yang berbeda dari pendapat mayoritas.
Alih-alih menanggapi argumennya, orang lain justru menyebutnya tidak nasionalis, tidak cinta tanah air, atau tidak berpihak kepada rakyat.
Padahal, berbeda pendapat tidak otomatis berarti seseorang membenci negaranya.
Kita boleh tidak setuju terhadap pendapat seseorang, tetapi kita harus mampu menjelaskan ketidaksetujuan tersebut dengan alasan yang masuk akal.
Kita juga perlu membedakan kritik yang berdasarkan fakta dengan tuduhan yang tidak memiliki bukti.
Jika setiap perbedaan dibalas dengan cap negatif, masyarakat akan takut berbicara. Diskusi berubah menjadi pertengkaran, sedangkan persatuan semakin sulit dipelihara.
Padahal, nasionalisme bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama.
Nasionalisme berarti kita bersedia menjaga kepentingan bersama meskipun memiliki perbedaan.
Inilah makna penting Bhinneka Tunggal Ika: kita tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup rukun sebagai bangsa Indonesia.
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Hadirin yang saya hormati,
Ada tiga hal sederhana yang dapat kita mulai.
Pertama, berhentilah menilai seseorang hanya berdasarkan satu kejadian. Seseorang yang pernah gagal masih memiliki kesempatan untuk berhasil. Seseorang yang pernah melakukan kesalahan juga dapat belajar dan memperbaiki diri.
Kedua, biasakan memeriksa fakta sebelum membuat penilaian. Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Jangan menuduh seseorang hanya berdasarkan cerita dari orang lain.
Ketiga, berikan kesempatan kepada orang lain untuk berkembang. Jika ada teman yang mengalami kesulitan, bantulah. Jika ada orang yang melakukan kesalahan, tegurlah dengan baik. Jika ada seseorang yang ingin memperbaiki diri, jangan terus-menerus mengungkit masa lalunya tanpa alasan yang relevan.
Namun, berprasangka baik bukan berarti kita harus membenarkan semua tindakan. Jika seseorang melakukan pelanggaran, kita tetap perlu menegakkan aturan secara adil. Kita hanya perlu menghindari penghukuman berdasarkan dugaan dan tidak merendahkan martabat manusia.
Penutup
Hadirin yang saya hormati,
Coba kita bayangkan jika setiap siswa saling menghargai, setiap tetangga saling membantu, dan setiap warga negara tidak mudah mencurigai orang lain hanya karena perbedaan.
Tentu kehidupan akan terasa lebih damai.
Kita mungkin tidak mampu menghilangkan seluruh persoalan bangsa dalam satu hari. Namun, kita dapat memulainya dengan mengubah cara kita memandang dan memperlakukan orang lain.
Jangan memberi cap bodoh kepada orang yang sedang belajar.
Jangan merendahkan orang yang sedang berjuang.
Jangan menganggap musuh orang yang berbeda pendapat.
Sebab, kita tidak pernah tahu siapa yang kelak akan membawa manfaat besar bagi masyarakat dan bangsa ini.
Jangan biarkan prasangka melahirkan pelabelan, jangan biarkan pelabelan melahirkan diskriminasi, dan jangan biarkan diskriminasi merusak persatuan Indonesia.
Marilah kita jadikan ajaran Islam sebagai pedoman akhlak, ilmu sosiologi sebagai sarana memahami kehidupan masyarakat, dan nasionalisme sebagai semangat untuk merawat persatuan bangsa.
Semoga Allah Swt. membimbing kita menjadi manusia yang bijaksana, adil dalam menilai, santun dalam berbicara, dan mampu menghormati sesama.
Amin ya rabbal 'alamin.
Demikian kultum yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.









