Senin, 19 Oktober 2026

BERSAING UNTUK MENJADI YANG TERBAIK ATAU BEKERJA SAMA UNTUK MENCAPAI TUJUAN?

 

Bacaan Stimulus

OSIS SMA Tunas Bangsa merencanakan kegiatan bakti sosial untuk membantu masyarakat di sebuah desa yang beberapa waktu sebelumnya terdampak banjir. Berdasarkan informasi dari perangkat desa, sejumlah keluarga masih membutuhkan bantuan berupa bahan makanan, perlengkapan kebersihan, pakaian layak pakai, dan perlengkapan sekolah untuk anak-anak. Pengurus OSIS sepakat bahwa kegiatan tersebut harus dilaksanakan dengan baik agar bantuan benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.

Untuk mempersiapkan kegiatan, ketua OSIS membentuk beberapa divisi, termasuk divisi penggalangan dana dan divisi logistik. Divisi penggalangan dana bertugas mencari sumber dana melalui kegiatan amal, penjualan makanan, dan pengumpulan sumbangan sukarela. Sementara itu, divisi logistik bertugas mendata kebutuhan warga, mengumpulkan barang bantuan, melakukan pengemasan, dan mengatur distribusi ke lokasi sasaran.

Pada awalnya, kedua divisi bekerja dengan semangat yang sama. Divisi penggalangan dana merancang kegiatan bazar amal dan pertunjukan musik sederhana di sekolah. Mereka berharap kegiatan tersebut dapat menarik perhatian siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar sehingga dana yang terkumpul cukup besar. Menurut mereka, bantuan dalam bentuk uang lebih fleksibel karena dapat digunakan untuk membeli kebutuhan yang paling mendesak sesuai kondisi di lapangan.

Di sisi lain, divisi logistik mengusulkan agar sekolah lebih dahulu mengumpulkan barang-barang yang dibutuhkan warga. Mereka berpendapat bahwa bantuan berupa beras, minyak goreng, sabun, alat kebersihan, dan perlengkapan sekolah akan lebih mudah dipahami manfaatnya oleh para penyumbang. Mereka juga khawatir kegiatan bazar dan pertunjukan musik memerlukan biaya persiapan yang cukup besar sehingga dana bersih yang terkumpul tidak sebanyak perkiraan.

Perbedaan pendapat tersebut sebenarnya dapat dibicarakan melalui rapat koordinasi. Namun, masing-masing divisi mulai merasa bahwa usulannya paling tepat. Divisi penggalangan dana menganggap divisi logistik terlalu berfokus pada barang dan kurang memahami pentingnya fleksibilitas keuangan. Sebaliknya, divisi logistik menilai divisi penggalangan dana terlalu mementingkan besarnya dana yang terkumpul tanpa mempertimbangkan kebutuhan nyata warga.

Ketegangan semakin terasa ketika ketua OSIS meminta setiap divisi menyampaikan laporan perkembangan. Divisi penggalangan dana menunjukkan rancangan kegiatan yang dianggap menarik dan berpotensi mengumpulkan banyak sumbangan. Divisi logistik mempresentasikan daftar kebutuhan warga berdasarkan informasi awal dari perangkat desa. Alih-alih membahas bagaimana kedua rencana tersebut dapat saling mendukung, anggota kedua divisi justru mulai membandingkan program masing-masing.

Beberapa anggota merasa bahwa keberhasilan kegiatan akan menentukan penilaian pengurus OSIS terhadap kinerja divisinya. Divisi penggalangan dana ingin menunjukkan bahwa mereka mampu mengumpulkan dana dalam jumlah besar. Divisi logistik ingin membuktikan bahwa ketepatan bantuan jauh lebih penting daripada angka pengumpulan dana. Persaingan yang semula mendorong mereka bekerja lebih serius perlahan berubah menjadi keinginan untuk membuktikan bahwa divisi sendiri lebih unggul daripada divisi lain.

Akibatnya, komunikasi antardivisi menjadi kurang lancar. Divisi penggalangan dana mulai menyusun rencana kegiatan tanpa terlebih dahulu memastikan kebutuhan barang yang akan dibeli. Sebaliknya, divisi logistik membuat daftar kebutuhan tanpa memperbarui perkiraan anggaran bersama divisi penggalangan dana. Kedua divisi tetap bekerja, tetapi kegiatan mereka berjalan sendiri-sendiri. Mereka juga mulai mengkritik keputusan satu sama lain dalam rapat, sehingga waktu yang seharusnya digunakan untuk mematangkan program justru habis untuk mempertahankan pendapat.

Melihat perkembangan tersebut, ketua OSIS mengadakan rapat bersama. Ia mengingatkan bahwa tujuan utama kegiatan bukanlah menentukan divisi mana yang paling hebat, melainkan membantu warga yang terdampak banjir. Ia kemudian meminta setiap divisi menjelaskan kebutuhan, keterbatasan, dan alasan di balik rencana yang diajukan. Dalam diskusi tersebut, mereka menyadari bahwa kedua gagasan sebenarnya memiliki kelebihan dan kekurangan.

Divisi penggalangan dana akhirnya memahami bahwa keberhasilan pengumpulan uang perlu didasarkan pada daftar kebutuhan yang jelas. Sementara itu, divisi logistik menyadari bahwa sumbangan barang saja belum tentu dapat memenuhi semua kebutuhan warga. Ada kebutuhan tertentu yang lebih tepat dipenuhi melalui pembelian langsung, terutama jika barang yang diperlukan sulit diperoleh dalam jumlah cukup dari sumbangan masyarakat.

Setelah berdiskusi, kedua divisi menyusun program bersama. Mereka tetap mengadakan bazar amal dalam skala yang disesuaikan dengan kemampuan sekolah, sekaligus membuka pengumpulan barang bantuan berdasarkan daftar kebutuhan yang telah dikonfirmasi. Dana yang terkumpul dicatat secara terbuka, sedangkan barang yang diterima didata agar tidak terjadi penumpukan bantuan yang kurang dibutuhkan. Divisi penggalangan dana berkoordinasi dengan divisi logistik sebelum melakukan pembelian, dan divisi logistik menyampaikan perkembangan kebutuhan agar penggunaan dana dapat dipertanggungjawabkan.

Mereka juga menyepakati pembagian tanggung jawab yang jelas. Divisi penggalangan dana bertanggung jawab atas pencatatan pemasukan dan pengeluaran, sedangkan divisi logistik bertanggung jawab atas pendataan, pengemasan, dan distribusi bantuan. Kedua divisi melakukan evaluasi bersama sebelum bantuan dikirimkan. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur berdasarkan jumlah dana atau banyaknya barang yang terkumpul, tetapi juga berdasarkan ketepatan sasaran, transparansi, dan manfaat bantuan bagi warga.

Ketika kegiatan selesai, bantuan berhasil disalurkan sesuai kebutuhan yang telah didata. Pengurus OSIS memperoleh pengalaman bahwa perbedaan gagasan dapat menjadi sumber perbaikan apabila dikelola dengan baik. Mereka juga menyadari bahwa persaingan dapat mendorong seseorang meningkatkan kemampuan dan menunjukkan prestasi, tetapi persaingan yang tidak terkendali dapat merusak hubungan dan menghambat pencapaian tujuan bersama.

Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi bagi OSIS. Dalam kegiatan berikutnya, setiap divisi tetap diberi kesempatan mengembangkan gagasan terbaiknya. Namun, mereka juga diwajibkan menyusun rencana yang saling terhubung, berbagi informasi, dan mengevaluasi hasil secara bersama-sama. Mereka memahami bahwa keunggulan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh prestasi masing-masing bagian, tetapi juga oleh kemampuan seluruh anggota bekerja sebagai satu kesatuan.


Pertanyaan Diskusi

1. Mengidentifikasi bentuk hubungan antarkelompok

Berdasarkan bacaan, temukan tindakan yang menunjukkan kompetisi antardivisi dan tindakan yang menunjukkan kolaborasi. Sertakan bukti perilaku dari masing-masing divisi.

2. Menganalisis fungsi kompetisi

Pada awalnya, setiap divisi berusaha membuktikan keunggulan rencananya. Menurut kalian, dalam kondisi apa kompetisi tersebut dapat memberikan dampak positif bagi organisasi? Jelaskan dengan menghubungkan kompetisi dan peningkatan kualitas kerja.

3. Menganalisis dampak negatif kompetisi

Mengapa persaingan antardivisi dalam kasus tersebut justru menghambat persiapan bakti sosial? Jelaskan hubungan antara keinginan untuk terlihat unggul, komunikasi yang buruk, dan tidak tercapainya tujuan bersama.

4. Mengevaluasi kolaborasi

Mengapa penggabungan kegiatan penggalangan dana dan pengumpulan barang menjadi pilihan yang lebih tepat dalam kasus tersebut? Apakah kolaborasi berarti setiap divisi harus meninggalkan gagasannya sendiri? Jelaskan.

5. Menentukan strategi organisasi

Bayangkan kalian menjadi ketua OSIS. Bagaimana cara menciptakan kompetisi yang sehat sekaligus memastikan semua divisi tetap berkolaborasi? Tuliskan minimal tiga langkah yang dapat diterapkan.

6. Berpikir kritis

Apakah kompetisi selalu bertentangan dengan kolaborasi? Jelaskan pendapat kalian dengan menggunakan contoh dari bacaan dan satu contoh lain dalam kehidupan sekolah.

7. Refleksi

Dalam sebuah organisasi, mana yang lebih penting: menjadi divisi terbaik atau mencapai tujuan organisasi bersama? Berikan alasan yang logis dan kaitkan dengan tanggung jawab setiap anggota.

History Back Again

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar